Hari ini, sekitar jam 10 kita obrolin tentang masalah yang kemaren kemaren. Membicarakan tentang persahabatan yang dulu kuat dan akhirnya terpecah cuma karena satu masalah yang dilebih-lebihkan. Reza, itulah nama sahabat yang dulu selalu dekat dengan saya beserta teman-teman saya yang lain. Entah mengapa dia tidak pernah mau merasa bersalah terhadap semua sahabat-sahabatnya yang telah ia sakiti bahkan ia marahi. Dia tidak pernah merasakan salah dan tidak pernah mau minta maaf. Dia bilang saya dan teman-teman cuma bisa membicarakan keburukannya dari belakang, kenyataannya dulu saya dijauhi oleh dia tanpa alasan yang saya tau. Dia tiba-tiba menjauh, dan untungnya saya sadar kalau dia marah dan saya langsung cari tahu apa penyebabnya. Tapi saya langsung mencoba meminta maaf dan mencoba merubah semua sikap saya, tidak seperti dia yang tidak mau disalahkan.
Kejadiannya karena waktu itu, Romi dan Reza keluar bersama ke suatu tempat yang dulu kami sering tempati untuk melihat-lihat suasana malam yang asik. Romi meminjam ponsel Reza untuk mengirim sms kepada saya, lalu Reza menanyakan semuanya. Semua yang telah saya, Ahan dan Romi bicarakan malam kemarin sebelum kejadian itu. Romi berkata bahwa memang kami membicarakan tentang perubahan Reza yang sekarang kami rasakan, namun Reza malah marah dan mengirimkan sebuah pesan yang tidak singkat dan juga tidak panjang kepada kami bertiga. Dia mengerahkan seluruh kepintarannya untuk mengeluarkan kata-kata tajamnya dan kamipun menjawab semua pesan singkatnya kecuali Romi, karena dia sedang bersama Reza waktu itu. Lalu, tiba-tiba Reza menelepon saya dan saat saya angkat telepon itu, Reza belum menjawab kata "HALLO" yang keluar dari mulut saya. Mungkin dia berpikir bahwa saya tidak berani untuk mengangkat telepon dari dirinya. Setelah tertangkap basah tentang malam kemarin itu, saya lalu menceritakan semua yang saya bicarakan kemarin, tapi dia tetap tidak mau merubah sikapnya. Saat Romi menawarkan untuk berdamai, dia menolaknya mentah-mentah. Dia bilang kepada Ahan bahwa Ahan harus ingat oleh yang namanya karma, padahal dia sendiri yang dulu melakukan hal yang sama yang kami lakukan sekarang kepada saya. Dan mungkin ini karma dari perbuatannya waktu dulu karena dia juga tidak berani berbicara langsung kepada saya tentang semua kesalahan saya.
Lihat sekarang siapa yang tertawa? Lihat sekarang apa yang kamu dapatkan? Kamu tidak mendapat apa-apa sekarang, bahkan teman-teman yang dulu sering kamu suruh untuk menjemput kamu dan direpotin oleh kamu sekarang hilang. Apa yang kamu lakukan sekarang? Kamu malah mencari teman baru yang lebih tua dari kamu, tetap datang ke tempat kami biasa bercanda-ria, dan kamu tetap tidak mau merubah sikap. Itu menunjukkan sifat kekanak-kanakkan dan ketidak-dewasaan kamu dalam menghadapi masalah seperti ini. Lebih baik kamu berkaca diri, sekarang siapa yang tidak gentle? Seorang ksatria adalah seseorang yang mau mengakui kesalahannya, sedangkan kamu apa? Harusnya sebagai teman yang baik, setelah kamu tahu kami menjauhi kamu karena perubahan kamu, harusnya kamu pura-pura tidak tahu dan merubah sikap kamu 180 derajat secara diam-diam dan membuat kami terharu dengan apa yang kamu lakukan. Tapi sekarang? Saya tahu kamu tersiksa dengan keadaan yang sekarang kamu alami dan kamu cuma mencoba-coba untuk membiasakan diri dengan lingkungan sekitar. Kita lihat saja nanti siapa yang akan tertawa bahagia! Kami, atau kamu? Let see...
No comments:
Post a Comment