Tuesday, August 20, 2013

Dibutuhkan Sebagai...

Banyak orang banyak pandangan. Itu hal yang pasti. Sampai-sampai saya membuat pernyataan: "Banyak tahu banyak masalah, kurang tahu terasa hampa", pernyataan tersebut bisa anda artikan dengan banyak arti. Bisa kalian bilang hanya wacana ngaco, bisa juga anda setuju dengan pernyataan itu. Mungkin 1 di antara anda yang setuju pernah mengalami pengalaman yang mirip dengan saya (karena di dunia ini tidak ada yang sama persis). Mungkin yang pernah merasakan apa yang saya rasakan adalah mereka yang pernah galau.

Pernahkah anda memberikan pernyataan pada diri anda: "Lebih baik saya tidak pernah tahu agar tidak sakit seperti ini"? Karena manusia sering kali tidak punya pegangan teguh dan sering bingung: "Kenapa tadi saya bilang itu? Kenapa harus saya membenci hal itu? Kenapa harus terucap oleh lisan saya?". Jawabannya rumit, karena di dunia ini manusia dituntut untuk mencari tahu. Dan apa yang membuat saya menyatakan: "Banyak tahu banyak masalah"? Yaitu kita tahu tapi hanya sepotong, bukan tahu yang lengkap. Bayangkan jika anda mengerjakan sesuatu, anda hanya tahu langkah awalnya, tapi anda tidak punya ilmu yang lengkap dan semua perkerjaan yang anda pernah lakukan terhenti di angka 85%, apakah itu tidak menyesakan hati?

Tapi sebenarnya, inti dari judul yang saya berikan pada artikel saya ini bukan itu. Saya ingin bertanya kepada anda semua, pernahkah anda menjalin hubungan dengan orang lain? Saya yakin, para pembaca di sini selalu melakukan hubungan dengan orang lain. Lantas, apakah pembaca di sini pernah memiliki banyak teman? Teman yang berasal dari mana? Dari teman lama anda? Atau anda yang mencari sendiri?

Seseorang mungkin sulit untuk menerima orang baru, dibutuhkan waktu yang cukup lama dengan keberhasilan yang cukup minim. Terkadang, anda terkesan dimanfaatkan oleh seseorang yang anggap teman itu. Kenapa? Karena mereka hanya datang saat ada butuhnya saja, bahkan seseorang yang dulu pernah menjadi kawan baik anda.

Pernah saat lebaran kemarin, seorang kawan kenalan dari kawan saya yang satunya mengirimkan saya sebuah pesan singkat. Saya-pun tidak ingat kalau itu adalah hari lebaran. Setelah saya buka, ternyata dia hanya menanyakan: "Mas, laptop yang bagus buat saya untuk mainan apa ya dengan harga yang murah?" Betapa terlihat lucu, di hari yang fitri itu kawannya kawan saya tidak mengucapkan mohon maaf lahir batin. Tidak terasa pada saat itu kalau pertanyaannya yang diajukan tidak sesuai dengan momen saat itu karena saya sendiri lupa. Akhirnya saya diingatkan kawan saya saat saya pulang ke Cirebon bahwa yang kemarin mengirim pesan singkat kepada saya itu tidak juga mengucapkan maaf kepada kawan-kawan saya yang lain. Mereka bilang orang tadi datang hanya saat ada butuhnya saja dengan kami.

Itu cerita kawan yang pertama. Saya maklumkan dia hanya kawan jauh.Ada lagi seorang kawan lama saya yang sudah lama kami tidak berhubungan. Setelah sekian lama, akhirnya kami sempat berjumpa sekali-kali tanpa ada kelanjutan (jadi cuma hari itu bertemu dan selesai). Tiba-tiba datang kembali dan menanyakan saya tentang "Mas saya mau beli hp. Kalau mau nentuin hp itu bagus dilihat dari mananya ya?". Begitu kira-kira isinya. Pada saat itu saya hanya berpikir ingin membantu kawan dengan memberi saran. Setelah beberapa lama dari kejadian itu, kawan lama saya ini kembali lagi dengan pertanyaannya: "Mas kalau laptop yang murah bisa buat mainan tipe apa ya?". Lumayan terkejut saya mendengarnya karena setelah saya beri saran, tidak ada lagi yang lain. Tanpa basa-basi, dan tanpa kelanjutan.

Sekarang, saya tinggal di sini, melihat kawan-kawan yang baik-baiknya berangkat untuk kuliah, sementara saya masih menunggu 1 bulan di sini. Sangat terasa sepi karena biasanya saya main kesana-kemari hingga malam hari. Sekarang yang bisa saya lakukan hanya berdiam atau mengunjungi rumah pacar sampai sore, selanjutnya kebingungan mau kemana.

Tetapi di balik itu semua, saya patut bersyukur bahwa saya hanya diandalkan orang lain (bukan sahabat) tentang informasi yang saya miliki. Masih banyak orang lain yang dibutuhkan orang lainnya untuk diperas hartanya. Bersyukur saya bukan salah satu dari mereka yang hanya dibutuhkan hubungannya untuk diperas hartanya (karena saya tidak punya banyak).

No comments:

Post a Comment