Setelah beberapa waktu sibuk dengan dunia kuliah, kembali lagi saya mengingat aktivitas untuk mengisi blog saya yang kurang lebih sudah setahun libur. Setelah sibuk mengerjakan tugas dari perkuliahan, kini saatnya untuk menulis cerita dalam waktu yang telah lewat. Inti dari cerita berikut adalah tentang kepercayaan. Pada jaman ini, banyak orang yang melakukan kebohongan demi berbagai alasan kepentingannya. Dan saya salah satu dari sekian banyak orang yang bingung dengan cerita saya sendiri. Dalam arti apakah cerita saya terdengar bualan atau memang orang yang mendengarnya percaya cerita saya adalah fakta yang telah terjadi.
Tidak saya pungkiri kalau banyak di lingkungan saya tersebar orang yang berbicara tentang sesuatu yang tidak pernah ia alami. Beberapa orang yang melakukan pencitraan memiliki berbagai alasan, salah satunya agar dapat diterima di sebuah lingkungan. Itulah alasan yang menggoyahkan saya untuk meyakini orang-orang yang mendengar cerita saya itu menganggap cerita-cerita ini adalah bualan belaka.
Pernah beberapa kali saya pulang-pergi Depok-Cirebon dengan menggunakan sepeda motor tanpa ditemani orang lain dan hanya bermodal alat navigasi dari HP. Saat pertama kali melakukan perjalanan, saya nekat saja cuma bermodal aplikasi navigasi dari HP tanpa mengetahui kebenaran tentang rute yang saya jalani. Artinya, saya benar-benar buta arah. Baru beberapa saat di jalan saja sudah terguyur hujan, pada waktu itu sore hari sekitar habis Ashar. Lalu saya sempat tersesat di daerah Bekasi karena sinyal GPS dari HP saya itu tidak akurat. Lalu saya melewati sebuah sungai atau kali yang besar di Bekasi dengan kondisi yang gelap (karena waktu itu sudah malam) dan akhirnya sampai di kontrakan teman saya di depan Graha Insan Citra, RTM, Depok. Lalu beberapa kali pulang-pergi, saya masih tetap mengandalkan HP dengan bantuan GPS dan mendengarkan instruksi dari HP melalui navigasi suara HP dengan menggunakan headset. Dan jujur, saya belum hatam beberapa patokan penting Depok-Cirebon. Beberapa orang bertanya arah mana yang saya ambil, saya cuma bisa menceritakan ciri-ciri jalan yang saya lewati tanpa tahu persis ada di daerah mana saya waktu itu.
Lalu beberapa kali saya cerita tentang kehidupan saya di Cirebon. Beberapa orang mungkin tidak percaya, dan terkadang saya suka bertanya kepada orang yang saya ceritakan pengalaman saya, apakah mereka percaya atau tidak. Percaya atau tidaknya mereka sebenarnya bukan masalah, karena hidup yang saya jalani bukan cerita yang didapat orang lain. Tetapi terkadang terasa lucu ketika melihat orang lain antara percaya dan tidak dengan cerita saya tersebut.
Lalu saya sempat beritahu tentang Bapak saya yang namanya mulai dikenal oleh beberapa orang karena beliau merupakan seorang guru di sebuah organisasi bela diri. Mungkin beberapa orang hanya sebatas mengiyakan saja. Kembali saya senyum-senyum sendiri kalau melihat reaksi yang seperti itu, hehehe.
Lalu saya bercerita tentang masa lalu saya yang naik dan turun. Saya ceritakan juga bagaimana kondisi saya yang sekarang. Terkadang juga lucu saat orang mungkin bingung dengan cerita saya. Mungkin bagi beberapa orang cerita-cerita saya ini terlalu tinggi untuk menjadi kenyataan ya? Entahlah, sebenarnya saya hanya menceritakan pengalaman saya yang sudah terjadi saja.
Di Depok sudah mau masuk semester 4 perkuliahan. Saya sudah memiliki pengalaman juga di sini. Mulai dari mengenal jalan, mengenal kondisi lalu lintas, dan mengenal jadwal kapan ada razia kendaraan di satu titik. Saya juga sudah punya kehidupan yang baru, tetapi tetap tidak akan melupakan kawan-kawan lama saya yang sudah menjadi 'sohib banget' pokoknya. Wakuncar dari Depok ke Bogor, kalau cerita yang ini mungkin masih banyak orang yang percaya karena jaraknya tidak terlalu jauh juga. Akhirnya saya tahu bagaimana kondisi di kota lain dan apa saja budaya yang terlihat sekilas pandang.
Sebenarnya waktu kecil, saya jarang berpergian. Menghabiskan masa kanak-kanak di Sumber, Kabupaten Cirebon, perjalanan sekurangnya setahun sekali dengan keluarga ke Bandung. Jakarta adalah kota yang cuma hitungan jari saya kunjungi pada waktu kecil, Bahkan jalan dari Cirebon ke rumah almarhum kakek-nenek yang di Bandung saja saya tidak tahu sampai saya melakukan perjalanan sendiri bermodal GPS HP dan sepeda motor beserta nekat yang boleh dikatakan gila untuk umur dan pengalaman saya waktu itu. Jadi, saya sendiri terkadang heran, apakah semua itu memang terjadi? Mengingat masa kecil saya yang jalan berpergian ke luar kota. Yang jadi permasalahan itu adalah soal kepercayaan. Yang saya takutkan, dengan ketidakpercayaan mereka tentang cerita saya, mereka jadi hilang kepercayaannya terhadap saya. Saya akui memang saya orangnya kepo, kepengen nyaho kalau udah urusan sosial, hehe.
Jika saja apa yang saya ceritakan menurut pembaca adalah sekedar bualan tanpa fakta yang dapat dipercaya, itu hak pembaca. Saya hanya berpikir, apakah kejujuran di dunia ini memang pahit diterima, atau menyakitkan hati orang jika seseorang mengetahuinya? Apakah kepercayaan orang tentang kejujuran hanya sebatas jawaban 'ya' di mulut tanpa keyakinan dalam hati? Entahlah. Karena saya sejak kecil dididik orang tua untuk jujur dan bertanggung jawab atas segala kebebasan yang orang tua saya percayakan :)
Jika saja apa yang saya ceritakan menurut pembaca adalah sekedar bualan tanpa fakta yang dapat dipercaya, itu hak pembaca. Saya hanya berpikir, apakah kejujuran di dunia ini memang pahit diterima, atau menyakitkan hati orang jika seseorang mengetahuinya? Apakah kepercayaan orang tentang kejujuran hanya sebatas jawaban 'ya' di mulut tanpa keyakinan dalam hati? Entahlah. Karena saya sejak kecil dididik orang tua untuk jujur dan bertanggung jawab atas segala kebebasan yang orang tua saya percayakan :)
No comments:
Post a Comment