Akhir-akhir ini banyak sekali perubahan di sekitar lingkungan yang dapat saya temui. Banyak sekali kejadian-kejadian buruk yang terjadi. Bisa dibilang lingkungan ini hampir ada di tahap "chaos", itulah saya menyebutnya seperti pada permainan konsol yang dulu sering saya mainkan. Di level "chaos" ini, sama saja dengan level "expert" pada jenis permainan lain. Perbedaannya adalah di level "chaos", sudah pasti orang-orang "expert" bisa bertahan dan menjalankan permainan, tetapi kejadian-kejadian yang terlihat adalah kejadian-kejadian dengan taraf kerusuhan yang tinggi. Bahkan sangat tinggi. Sehingga banyak sekali orang yang bingung cara masuk dalam permainan tersebut, bahkan bingung apa perannya dalam permainan tersebut.
Kehidupan, layaknya permainan. Pasti ada tamatnya. Dan tentu ada jalan ceritanya juga. Tidak mungkin tau-tau selesai tanpa dimainkan. Maka pada dasarnya kita sebagai manusia harus menyiapkan diri dalam menghadapi permainan demi permainan yang dilontarkan oleh musuh. Tetapi kadang kita memiliki kesulitan dalam memainkan peran di sebuah permainan. Dan jika kita mengalami kesulitan, maka ada sebuah buku yang berjudul "walkthrough" yang bisa dikatakan contekan untuk menghadapi masalah di dalam permainan. Nah orang-orang jaman sekarang ini, termasuk saya tidak dapat dipungkiri, sering sekali jauh dari buku-buku tersebut. Sehingga "chaos" yang terjadi di dalam sebuah permainan semakin buruk, bahkan belum sempat tamat kita sudah ditamati duluan oleh sistem permainan tersebut.
Saya datang dan besar di Kota Cirebon, lalu menjalankan hidup, menjalankan hidup di Kota Depok, dimana kota tinggal saya kedua-duanya tidak luput dari banyak kerusuhan manusia. Di Kota Cirebon, saya biasa mendengar istilah geng motor, dan sekarang di Kota Depok, saya mulai agak sedikit sekali kenal dengan istilah pembegalan. Sampai-sampai suatu hari saya masuk ke toilet kampus, dan melihat ada sebuah coretan "Depok Berdarah". Yang membuat saya bingung adalah ketika orang-orang malah membicarakan dengan hinaannya tentang suatu keburukan yang sedang terjadi. Contohnya seperti "main-mainlah kemari, siapa tau tidak selamat" dan kesalnya ini sudah menjadi suatu kebiasaan yang sangat biasa di masyarakat. Padahal ada sebuah ungkapan yang berbunyi "mulutmu harimaumu, ucapanmu adalah doa", dan ini banyak sekali yang tidak mengerti akan kehadiran ungkapan-ungkapan bijak ini.
Saya juga mendapatkan review dari sumber yang dapat dipercaya, yang mengingatkan pada masa pemerintahan dulu. Kerusuhan terjadi dimana-dimana dengan sebuah embel-embel yang digembar-gemborkan seperti sebuah konspirasi terselubung dengan tingkat yang ssangat umum. Saya juga heran kenapa kejadian "chaos" yang seperti ini terulang kembali. Dan saya juga masih ingat cerita-cerita orang terdahulu dengan menghilangnya banyak manusia dan masyarakat yang meresahkan secara tersembunyi. Dan saya rasa itu cukup untuk membuat orang lebih bijaksana dalam mengambil tindakan dalam kehidupan. Kriminalitas juga berkurang, dengan mengorbankan 1-2 orang sumber penyakit, bisa menyelamatkan jutaan orang. Tetapi atas azas HAM, orang-orang jahat bermuka manis bersifat iblis ini terlindungi. Saya ingat dulu ketika saya masih dalam masa balita dan di bawah remaja, orang tua saya sering memarahi dan memberi hukuman saya jika saya melakukan kesalahan. Dan itu berfek kepada penanaman moral yang baik, yang dapat disimpulkan saya akan jera untuk melakukan hal yang sama. Tetapi ini kebalikannya. Dengan melindungi orang jahat yang kita anggap "orang-orang kita", sekalipun itu penjahat tetapi kata orang itu dihormati orang banyak, kapankah adanya kejeraan yang tertanam di hati orang-orang?
Doa saya untuk kehidupan ini, semoga cepat sembuh dan saling interospeksi diri satu sama lain. Masih ada jalan untuk berbuat kebaikan dan memperbaiki diri selama ada niat yang tulus dari dalam hati.
No comments:
Post a Comment