Monday, March 7, 2011

Persahabatan Bagai Gunung Berapi

Ngga ngerti ya sama judul diatas? Hahaha gue jelasin. Gunung berapi kan bisa aktif bisa mati, sama aja kaya persahabatan. Masih ngga ngerti? Jadi gini loh, gunung berapi kan bisa aktif, bisa non-aktif, sama aja kaya persahabatan yang kadang seneng dan kadang ada masalah. Persahabatan tuh harusnya kaya apa ya? Pokoknya mah emang harusnya gitu sih soalnya ngga enak kalau di dalam sebuah persahabatan tuh ngga ada permasalahan. Pasti bosen temenan kalau cuma tenang-tenang aja. Punya temen banyak sama aja kaya punya pacar banyak. Punya pacar banyak pasti banyak masalah, ya dilabrak lah, digampar lah intinya mah ngga enak lah namanya juga masalah. Persahabatan juga sama, kadang-kadang ada temen yang nusuk kita, yang ninggalin kita, ngerasa ditinggalin sama kita, kadang-kadang juga kita nusuk sahabat itu. Sama aja deh kaya lo yang punya sahabat deket banget tapi tiba-tiba lo pergi ke temen baru lo dan sahabat lama lo didiemin. Kaya selingkuh lah istilahnya, pasti sahabat lamanya ngerasa cemburu, apalagi sakit hati. Kalau sahabat udah nusuk atau ninggalin kita sama aja kaya gunung berapi yang lagi aktif dan ngeluarin magma panas. Sakit kan pasti kalau kena? Panas banget deh. Kalau sahabat kita lagi setia sama kita, main bareng sama kita, adem ayem, sama aja kaya gunung berapi yang ngga aktif. Tenang, damai, sejuk kalau ada di gunung gitu kan? Jadi intinya, persahabatan itu bisa tenang dan bisa nyakitin. Buat kalian yang punya sahabat, jangan lupain sahabat lama lo dan jangan pernah nutup diri buat nerima sahabat baru. Kalau bisa, kalian satuin antara sahabat lama kalian dan sahabat baru kalian, dibuat jadi kaya komunitas baru, persahabatan yang lebih berwarna, lebih banyak dan bervariasi ceritanya.

Friday, March 4, 2011

Manusia Butuh Manusia

Sepandai-pandainya arsitek belum tentu bisa bikin rumah sendiri tanpa kuli. Sepandai-pandainya dokter ngga bisa kan ngeoperasi diri sendiri kalau dia sakit dan harus dioperasi? Sehebat-hebatnya mekanik juga belum tentu bisa ngerakit motor dengan rangka-rangka bikinan sendiri seorang diri. Sepinter-pinternya profesor dulunya juga pasti diajarin sama gurunya, kalau ngga diajarin pasti ngga bakal bisa jadi profesor. Sepandai-pandainya pembuat software juga ngga bisa bikin software kalau ngga ada sistem operasi kan? Bill gates juga kan belum tentu bisa ngerancang prosesor sendiri kalau ngga dibantuin. Jadi intinya, manusia butuh manusia. Manusia ngga bakal berarti hidupnya kalau ngga ada manusia lain. Jadi manusia jangan sombong kesimpulannya, kita harus jadi orang yang baik biar bisa diterima sama manusia lain. Kita butuh kawan dan bukanlah lawan. Semuanya harus bisa saling mengisi dalam hidup. Intinya harus bisa jadi lebih baik.

Sunday, September 26, 2010

Cerita bermoral

Ada satu cerita pendek yang baru saya baca kembali dari buku Cerpen Pustaka Bobo yang saya beli kira-kira tahun 2006. Cerita ini memiliki pesan moral yang sangat tinggi tentang ulah perbuatan manusia abad 20. Buku kumpulan cerpen tersebut berjudul: Istana Anak Milenium III. Langsung saja ceritanya seperti berikut.

Bahagianya Anak Abad XX
Oleh Joni

"Kita main di luar, yuk!" ajak Buby pada kakaknya, Mumy.
"Tidak!" kata Mumy, "Terlalu berbahaya. Sinar ultraviolet matahari akan merusak kulit dan muka kita."
"Tapi aku bosan terus berada di dalam rumah kubah ini," keluh Buby.
"Begini saja, bagaimana kalau kita ke perpustakaan?" ajak Mumy.
"Apa enaknya ke perpustakaan?" sungut Buby lagi.
"Kita lihat cara hidup anak-anak manusia purba. Menurut cerita, hidup mereka sangat menyenangkan."
"Baiklah."

Di perpustakaan, mereka mencari arsip-arsip manusia purba di komputer super canggih. Komputer itu bisa menampilkan gambar dan suara.

"Nah, ketemu!" seru Mumy gembira. Di monitor komputer tampak sebuah tulisan: Kehidupan Anak-Anak Abad XX.

Selanjutnya layar monitor menampilkan film cara hidup anak-anak abad XX. Mulai dari bangun pagi, mandi, membereskan tempat tidur. Lalu pergi sekolah, belajar, bermain dengan teman-teman, makan siang. Bahkan layar monitor juga menampilkan film anak-anak yang main layangan, nonton TV, atau ke mal bersama kedua orang tua mereka.

"Bahagia sekali anak-anak abad XX," kata Buby setelah melihat semua tayangan itu.
"Setiap hari mereka bisa bermain di luar rumah tanpa takut terkena sengatan sinar matahari. Lingkungan mereka juga masih asri. Di mana-mana terdapat pepohonan. Tidak seperti kita yang hidup di abad 25 ini. Setiap hari harus pakai baju perak dan kacamata biru untuk menghindari sengatan sinar ultraviolet matahari yang berlebihan. Dan lihat alam kita! Kering kerontang tanpa sebatang pohon. Terus, makanan mereka kelihatannya enak-enak sekali. Ada ayam, ikan, sayur, jeruk, dan... apa itu? Sayuran yang disiram kuah kacang?"
"Pecal," jawab Mumy.
"Ya pecal. Hmm, nikmat sekali. Dan kita... Huh! makanan kita cuma kapsul. Setiap hari hanya menelan kapsul. Aku bosan!" Buby makin cemberut.
"Semua ini karena salah nenek moyang kita. Senjata kimia yang dipergunakan saat mereka perang. telah merusak lapisan ozon. Akibatnya sinar matahari terlalu terik dan merusak ekosistem bumi. Seandainya manusia sebelum perang dunia III tahu akibat dari perang itu. Mereka pasti akan berusaha mencegahnya."
"Mum, kita kan bisa pergi menemui mereka dengan pesawat waktu penemuan Ayah! Ayo, kita peringatkan mereka!" ajak Buby bersemangat.
"Tapi... apa mereka mau percaya?" Mumy ragu.
"Kita coba saja dulu."

Buby dan Mumy langsung bergegas masuk ke mesin pesawat waktu yang berbentuuk piring. Mereka menekan tombol yang memutar mundur 500 tahun.

Tetapi, ketika mereka muncul, manusia abad XX berlarian ketakutan. Mereka dianggap mahluk luar angkasa yang ingin menguasai bumi. Buby dan Mumy lalu dikerjar-kejar pesawat temput. Untunglalh mereka bisa menyelamatkan diri dan kembali ke abad 25.

Keesokan harinya, Buby dan Mumy kembali memeriksa arsip abad XX. Mereka menemukan sebuah artikel yang menarik di monitor komputer. Mumy membaca artikel itu dengan suara lantang, "Ilmuwan abad XX sibuk menyelidiki kemunculan pesawat UFO..."

Ketika melihat foto pesawat yang disebut UFO tersebut, Buby berteriak kaget.

"Itu kan pesawat kita. Gila, kita disangka mahluk luar angkasa!"

Walaupun demikian, Buby dan Mumy tidak putus asa. Mereka tetap berulang-ulang mencoba memperingatkan manusia abad XX. Walau mereka tidak disambut baik dan dianggap mahluk angkasa luar oleh manusia abad XX.

Nah, jadi jangan terkejut jika suatu hari kau pun dikunjungi sebuah piring terbang. Penumpangnya barangkali Buby dan Mumy.

Kesimpulannya, mari kita galang perdamaian dunia sebelum terlambat. Tanamkan pada hati kita untuk tetap bersemangat membela kedamaian! Jangan merusak kedamaian dunia agar kelak anak cucu kita dapat menikmati hidup mereka tanpa menggunakan pakaian yang aneh serta kacamata anti ultraviolet agar mereka bisa menikmati alam seperti sekarang yang sedang kita nikmati.

Saturday, July 31, 2010

Apes di Hari Sabtu

Hari ini, dari mulai pagi sampai pulang sekolah saya benar-benar merasakan kesialan yang menurut saya tidak menyenangkan. Pertama, dari pagi saya bangun tidur, saya tidak bisa bangun pagi saat menginap di rumah teman. Saat saya sampai di rumah untuk bersiap-siap berangkat sekolah, waktu sudah menunjukkan pukul 6.00 dan saya punya janji dengan 2 orang teman saya, tapi saat saya berangkat untuk melakukan janji itu, malah teman saya sudah berangkat terlebih dahulu dan akhirnya saya telat ke sekolah. Saya di suruh berdiri selama beberapa belas menit! Ini semua karena saya merasa mules dan harus menuntaskan itu dengan segera, akhirnya banyak waktu yang terbuang. Tercatatlah nama saya sebagai siswa yang terlambat di sekolah.

Tapi ada kesialan lain lagi yang menunggu saya. Minggu kemaren, saya mengikuti kelas untuk audisi bahasa Inggris dan parahnya tidak ada satupun yang memberi tahu saya untuk mengerjakan tugas dari kelas speaking Bahasa Inggris. Harusnya saya membawa foto tentang keluarga dan pengalaman yang berkesan di foto, tapi naas tidak ada yang memberitahu saya satupun dari anak kelas X3. Dengan logat yang sok dibutuhin, guru itu  marah-marah dengan gerak bibir belepotan dalam pengucapan bahasa Inggris. Inilah yang membuat saya bad mood hari ini, guru yang selalu mau dibenarkan dan murid yang selalu tidak boleh protes! Mana bentuk negara demokrasi? Apa seperti ini? Saya merasa kesal sekali dengan guru itu!

Tak tahu takdirnya atau memang ini kesalahan saya, kesialan datang lagi. Saat bel istirahat berbunyi, kantin yang biasanya saya kunjungi untuk membeli makanan, ternyata tutup. Akhirnya saya harus ke kantin yang ramainya tidak terkira yang saya sendiri tidak suka keramaian. Tapi dengan terpaksa saya cuma membeli minum saja, karena kursi dan meja untuk makan sudah dipenuhi oleh kakak-kakak kelas dan teman-teman saya yang lain yang sedang makan di kantin itu. Perut masih terasa lapar karena saya hanya bisa meminum teh dalam kemasan gelas.

Kesialan saya masih berlanjut, bukan hanya sampai disini saja kejadiannya. Dua jam pelajaran terakhir diisi dengan pelajaran sejarah. Kebetulannya lagi, pelajaran sejarah kali ini diisi dengan ulangan. Saya menjawab 7 soal dari 10 soal, dan ternyata yang benar hanya 1 buah nomor saja! Nilai yang tercatat  cuma 10 dari yang harusnya 100, ini memang hari sial saya mungkin, atau Allah sedang menguji saya hari ini. Terasa berat, namun saya tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa berdoa dan bersabar.

Yang lebih mengherankan lagi, barang-barang produksi yang seharusnya ada di gudang pabrik sekarang ada di garasi rumah saya. Saya tidak tahu-menahu tentang usaha bapak saya tersebut. Tidak ada yang cerita tentang usaha ini sekarang. Yang saya dengar hanya cerita saat beberapa minggu yang lalu. Sampai sekarang, saya cuma bisa duduk dan browsing internet di rumah, sendirian, membosankan! Saya tidak tahu apa yang akan terjadi lagi setelah ini. Yang jelas, sesudah itu, saya menemukan tidak ada makanan sama sekali, cuma ada nasi yang telah matang tanpa masakan yang lain, ataupun bahan-bahan masakkan yang harusnya bisa saya olah menjadi makanan. Semoga Allah memberikan saya ketenangan dan kebahagiaan di hari esok, lusa, satu minggu ke depan, satu bulan kedepan, bahkan kalau bisa sampai satu tahun ke depan atau selamanya. Amin...

Thursday, July 15, 2010

Hari Pertama di X.3

Waduh di kelas udah sukses bergaul sama anak yang lain. Untung saya dapet kelas yang asik, anaknya ngga badeg, alim, tapi ada juga yang abulim. Tapi ngga apa-apa, saya bersyukur karena disana saya sudah punya banyak teman baru lagi. Semuanya suasana baru, dari seragam, sampai lingkungannya juga sudah lebih baik. Anak-anak yang lebih dewasa, kantin yang lebih banyak dari di SMP, semuanya sekilas terlihat asik. Di X.3, insya Allah saya punya teman-teman yang solid yang tidak memandang dalam pertemanan. Yaaaa walau tetap jadi korban menjadi wakil ketua murid di X.3, saya tetap menikmati suasana di kelas. Di kelas memang membuat kantuk datang melanda saat guru masuk, tapi saat tidak ada guru, semangat pun hadir kembali. Semuanya menyenangkan dan semoga semuanya akan menjadi indah di kelas ini. X3 :)

Wednesday, July 14, 2010

MOS SMA Negeri 1 Cirebon

Waduh 3 hari emang kerasa banget buat ngejalanin MOS yang katanya berat untuk dijalanin pas kita disuruh nyari-nyari barang yang harus dibawa pas MOS. Tapi akhirnya, niat saya yang semula cuma ingin mengikuti MOS di awal saja, akhirnya terpatahkan. Saya resmi menjalankan 3 hari berturut-turut MOS yang diadakan di SMA Negeri 1 ini. Mempin pasukan dan memberi komando penghormatan kepada pemimpin upacara di waktu MOS memang momen yang langka dan didapatkan cuma sekali seumur hidup karena kita juga ngga akan ngikutin MOS SMA dua kali kan? Iya lah jelas, karena kalau kita dikeluarin dari sekolah juga kan ngga ikut MOS lagi, tapi naik bersyarat. Waduh emang sih awalnya gerogi, tapi saya coba percaya diri dan akhirnya saya bisa! Yeeesssss! Walaupun ada sedikit kesalahan, tapi tak apalah karena saya memang bukan pemimpin pasukan yang sebenarnya.

Resmi jadi anak SMA Negeri 1 Cirebon berarti harus naatin semua peraturan yang ada kayanya. Semuanya bakal dijalanin disini, 3 tahun insya Allah akan gue laluin disini, lebih-lebihnya ya kita lihat nanti saja barangkali memang ada kendala saat naik kelas, tapi saya yakin saya bisa untuk menjaga semuanya baik. Di sekolah, nanti saya akan menjadi diri sendiri, lebih mendewasakan diri, lebih membangun kebersamaan, dan semuanya akan saya jalanin dengan insya Allah sepenuh hati. Ya doakan saja biar semuanya lancar. Oh iya saya lupa, nama saya tercatat di kelas X.3 bersama banyak siswa lainnya dari berbagai asal SMP. Untungnya, karena saya berkali-kali maju menampakan wajah, anak-anak di kelas jadi tahu siapa saya dan saya bisa dekat dengan mereka karena memang saya masih punya sedikit masalah dalam menjalin pertemanan baru, yaitu kurang PeDe dalam mengajak berbicara orang lain yang baru kenal. Insya Allah saya disini akan menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya dan saya akan giat belajar serta memperkecil kesalahan-kesalahan yang dulu saya pernah lakukan pada saat di SMP beberapa tahun yang lalu. Amin, amin, amin...

Thursday, June 10, 2010

Kita Lihat Nanti

Hari ini, sekitar jam 10 kita obrolin tentang masalah yang kemaren kemaren. Membicarakan tentang persahabatan yang dulu kuat dan akhirnya terpecah cuma karena satu masalah yang dilebih-lebihkan. Reza, itulah nama sahabat yang dulu selalu dekat dengan saya beserta teman-teman saya yang lain. Entah mengapa dia tidak pernah mau merasa bersalah terhadap semua sahabat-sahabatnya yang telah ia sakiti bahkan ia marahi. Dia tidak pernah merasakan salah dan tidak pernah mau minta maaf. Dia bilang saya dan teman-teman cuma bisa membicarakan keburukannya dari belakang, kenyataannya dulu saya dijauhi oleh dia tanpa alasan yang saya tau. Dia tiba-tiba menjauh, dan untungnya saya sadar kalau dia marah dan saya langsung cari tahu apa penyebabnya. Tapi saya langsung mencoba meminta maaf dan mencoba merubah semua sikap saya, tidak seperti dia yang tidak mau disalahkan.

Kejadiannya karena waktu itu, Romi dan Reza keluar bersama ke suatu tempat yang dulu kami sering tempati untuk melihat-lihat suasana malam yang asik. Romi meminjam ponsel Reza untuk mengirim sms kepada saya, lalu Reza menanyakan semuanya. Semua yang telah saya, Ahan dan Romi bicarakan malam kemarin sebelum kejadian itu. Romi berkata bahwa memang kami membicarakan tentang perubahan Reza yang sekarang kami rasakan, namun Reza malah marah dan mengirimkan sebuah pesan yang tidak singkat dan juga tidak panjang kepada kami bertiga. Dia mengerahkan seluruh kepintarannya untuk mengeluarkan kata-kata tajamnya dan kamipun menjawab semua pesan singkatnya kecuali Romi, karena dia sedang bersama Reza waktu itu. Lalu, tiba-tiba Reza menelepon saya dan saat saya angkat telepon itu, Reza belum menjawab kata "HALLO" yang keluar dari mulut saya. Mungkin dia berpikir bahwa saya tidak berani untuk mengangkat telepon dari dirinya. Setelah tertangkap basah tentang malam kemarin itu, saya lalu menceritakan semua yang saya bicarakan kemarin, tapi dia tetap tidak mau merubah sikapnya. Saat Romi menawarkan untuk berdamai, dia menolaknya mentah-mentah. Dia bilang kepada Ahan bahwa Ahan harus ingat oleh yang namanya karma, padahal dia sendiri yang dulu melakukan hal yang sama yang kami lakukan sekarang kepada saya. Dan mungkin ini karma dari perbuatannya waktu dulu karena dia juga tidak berani berbicara langsung kepada saya tentang semua kesalahan saya.

Lihat sekarang siapa yang tertawa? Lihat sekarang apa yang kamu dapatkan? Kamu tidak mendapat apa-apa sekarang, bahkan teman-teman yang dulu sering kamu suruh untuk menjemput kamu dan direpotin oleh kamu sekarang hilang. Apa yang kamu lakukan sekarang? Kamu malah mencari teman baru yang lebih tua dari kamu, tetap datang ke tempat kami biasa bercanda-ria, dan kamu tetap tidak mau merubah sikap. Itu menunjukkan sifat kekanak-kanakkan dan ketidak-dewasaan kamu dalam menghadapi masalah seperti ini. Lebih baik kamu berkaca diri, sekarang siapa yang tidak gentle? Seorang ksatria adalah seseorang yang mau mengakui kesalahannya, sedangkan kamu apa? Harusnya sebagai teman yang baik, setelah kamu tahu kami menjauhi kamu karena perubahan kamu, harusnya kamu pura-pura tidak tahu dan merubah sikap kamu 180 derajat secara diam-diam dan membuat kami terharu dengan apa yang kamu lakukan. Tapi sekarang? Saya tahu kamu tersiksa dengan keadaan yang sekarang kamu alami dan kamu cuma mencoba-coba untuk membiasakan diri dengan lingkungan sekitar. Kita lihat saja nanti siapa yang akan tertawa bahagia! Kami, atau kamu? Let see...