Monday, March 2, 2015

Perubahan Kehidupan

Akhir-akhir ini banyak sekali perubahan di sekitar lingkungan yang dapat saya temui. Banyak sekali kejadian-kejadian buruk yang terjadi. Bisa dibilang lingkungan ini hampir ada di tahap "chaos", itulah saya menyebutnya seperti pada permainan konsol yang dulu sering saya mainkan. Di level "chaos" ini, sama saja dengan level "expert" pada jenis permainan lain. Perbedaannya adalah di level "chaos", sudah pasti orang-orang "expert" bisa bertahan dan menjalankan permainan, tetapi kejadian-kejadian yang terlihat adalah kejadian-kejadian dengan taraf kerusuhan yang tinggi. Bahkan sangat tinggi. Sehingga banyak sekali orang yang bingung cara masuk dalam permainan tersebut, bahkan bingung apa perannya dalam permainan tersebut.

Kehidupan, layaknya permainan. Pasti ada tamatnya. Dan tentu ada jalan ceritanya juga. Tidak mungkin tau-tau selesai tanpa dimainkan. Maka pada dasarnya kita sebagai manusia harus menyiapkan diri dalam menghadapi permainan demi permainan yang dilontarkan oleh musuh. Tetapi kadang kita memiliki kesulitan dalam memainkan peran di sebuah permainan. Dan jika kita mengalami kesulitan, maka ada sebuah buku yang berjudul "walkthrough"  yang bisa dikatakan contekan untuk menghadapi masalah di dalam permainan. Nah orang-orang jaman sekarang ini, termasuk saya tidak dapat dipungkiri, sering sekali jauh dari buku-buku tersebut. Sehingga "chaos" yang terjadi di dalam sebuah permainan semakin buruk, bahkan belum sempat tamat kita sudah ditamati duluan oleh sistem permainan tersebut.

Saya datang dan besar di Kota Cirebon, lalu menjalankan hidup, menjalankan hidup di Kota Depok, dimana kota tinggal saya kedua-duanya tidak luput dari banyak kerusuhan manusia. Di Kota Cirebon, saya biasa mendengar istilah geng motor, dan sekarang di Kota Depok, saya mulai agak sedikit sekali kenal dengan istilah pembegalan. Sampai-sampai suatu hari saya masuk ke toilet kampus, dan melihat ada sebuah coretan "Depok Berdarah". Yang membuat saya bingung adalah ketika orang-orang malah membicarakan dengan hinaannya tentang suatu keburukan yang sedang terjadi. Contohnya seperti "main-mainlah kemari, siapa tau tidak selamat" dan kesalnya ini sudah menjadi suatu kebiasaan yang sangat biasa di masyarakat. Padahal ada sebuah ungkapan yang berbunyi "mulutmu harimaumu, ucapanmu adalah doa", dan ini banyak sekali yang tidak mengerti akan kehadiran ungkapan-ungkapan bijak ini.

Saya juga mendapatkan review dari sumber yang dapat dipercaya, yang mengingatkan pada masa pemerintahan dulu. Kerusuhan terjadi dimana-dimana dengan sebuah embel-embel yang digembar-gemborkan seperti sebuah konspirasi terselubung dengan tingkat yang ssangat umum. Saya juga heran kenapa kejadian "chaos" yang seperti ini terulang kembali. Dan saya juga masih ingat cerita-cerita orang terdahulu dengan menghilangnya banyak manusia dan masyarakat yang meresahkan secara tersembunyi. Dan saya rasa itu cukup untuk membuat orang lebih bijaksana dalam mengambil tindakan dalam kehidupan. Kriminalitas juga berkurang, dengan mengorbankan 1-2 orang sumber penyakit, bisa menyelamatkan jutaan orang. Tetapi atas azas HAM, orang-orang jahat bermuka manis bersifat iblis ini terlindungi. Saya ingat dulu ketika saya masih dalam masa balita dan di bawah remaja, orang tua saya sering memarahi dan memberi hukuman saya jika saya melakukan kesalahan. Dan itu berfek kepada penanaman moral yang baik, yang dapat disimpulkan saya akan jera untuk melakukan hal yang sama. Tetapi ini kebalikannya. Dengan melindungi orang jahat yang kita anggap "orang-orang kita", sekalipun itu penjahat tetapi kata orang itu dihormati orang banyak, kapankah adanya kejeraan yang tertanam di hati orang-orang?

Doa saya untuk kehidupan ini, semoga cepat sembuh dan saling interospeksi diri satu sama lain. Masih ada jalan untuk berbuat kebaikan dan memperbaiki diri selama ada niat yang tulus dari dalam hati.

Friday, January 16, 2015

Cerita Fakta dan Cerita Bualan

Setelah beberapa waktu sibuk dengan dunia kuliah, kembali lagi saya mengingat aktivitas untuk mengisi blog saya yang kurang lebih sudah setahun libur. Setelah sibuk mengerjakan tugas dari perkuliahan, kini saatnya untuk menulis cerita dalam waktu yang telah lewat. Inti dari cerita berikut adalah tentang kepercayaan. Pada jaman ini, banyak orang yang melakukan kebohongan demi berbagai alasan kepentingannya. Dan saya salah satu dari sekian banyak orang yang bingung dengan cerita saya sendiri. Dalam arti apakah cerita saya terdengar bualan atau memang orang yang mendengarnya percaya cerita saya adalah fakta yang telah terjadi.

Tidak saya pungkiri kalau banyak di lingkungan saya tersebar orang yang berbicara tentang sesuatu yang tidak pernah ia alami. Beberapa orang yang melakukan pencitraan memiliki berbagai alasan, salah satunya agar dapat diterima di sebuah lingkungan. Itulah alasan yang menggoyahkan saya untuk meyakini orang-orang yang mendengar cerita saya itu menganggap cerita-cerita ini adalah bualan belaka.

Pernah beberapa kali saya pulang-pergi Depok-Cirebon dengan menggunakan sepeda motor tanpa ditemani orang lain dan hanya bermodal alat navigasi dari HP. Saat pertama kali melakukan perjalanan, saya nekat saja cuma bermodal aplikasi navigasi dari HP tanpa mengetahui kebenaran tentang rute yang saya jalani. Artinya, saya benar-benar buta arah. Baru beberapa saat di jalan saja sudah terguyur hujan, pada waktu itu sore hari sekitar habis Ashar. Lalu saya sempat tersesat di daerah Bekasi karena sinyal GPS dari HP saya itu tidak akurat. Lalu saya melewati sebuah sungai atau kali yang besar di Bekasi dengan kondisi yang gelap (karena waktu itu sudah malam) dan akhirnya sampai di kontrakan teman saya di depan Graha Insan Citra, RTM, Depok. Lalu beberapa kali pulang-pergi, saya masih tetap mengandalkan HP dengan bantuan GPS dan mendengarkan instruksi dari HP melalui navigasi suara HP dengan menggunakan headset. Dan jujur, saya belum hatam beberapa patokan penting Depok-Cirebon. Beberapa orang bertanya arah mana yang saya ambil, saya cuma bisa menceritakan ciri-ciri jalan yang saya lewati tanpa tahu persis ada di daerah mana saya waktu itu.

Lalu beberapa kali saya cerita tentang kehidupan saya di Cirebon. Beberapa orang mungkin tidak percaya, dan terkadang saya suka bertanya kepada orang yang saya ceritakan pengalaman saya, apakah mereka percaya atau tidak. Percaya atau tidaknya mereka sebenarnya bukan masalah, karena hidup yang saya jalani bukan cerita yang didapat orang lain. Tetapi terkadang terasa lucu ketika melihat orang lain antara percaya dan tidak dengan cerita saya tersebut.

Lalu saya sempat beritahu tentang Bapak saya yang namanya mulai dikenal oleh beberapa orang karena beliau merupakan seorang guru di sebuah organisasi bela diri. Mungkin beberapa orang hanya sebatas mengiyakan saja. Kembali saya senyum-senyum sendiri kalau melihat reaksi yang seperti itu, hehehe.

Lalu saya bercerita tentang masa lalu saya yang naik dan turun. Saya ceritakan juga bagaimana kondisi saya yang sekarang. Terkadang juga lucu saat orang mungkin bingung dengan cerita saya. Mungkin bagi beberapa orang cerita-cerita saya ini terlalu tinggi untuk menjadi kenyataan ya? Entahlah, sebenarnya saya hanya menceritakan pengalaman saya yang sudah terjadi saja.

Di Depok sudah mau masuk semester 4 perkuliahan. Saya sudah memiliki pengalaman juga di sini. Mulai dari mengenal jalan, mengenal kondisi lalu lintas, dan mengenal jadwal kapan ada razia kendaraan di satu titik. Saya juga sudah punya kehidupan yang baru, tetapi tetap tidak akan melupakan kawan-kawan lama saya yang sudah menjadi 'sohib banget' pokoknya. Wakuncar dari Depok ke Bogor, kalau cerita yang ini mungkin masih banyak orang yang percaya karena jaraknya tidak terlalu jauh juga. Akhirnya saya tahu bagaimana kondisi di kota lain dan apa saja budaya yang terlihat sekilas pandang.

Sebenarnya waktu kecil, saya jarang berpergian. Menghabiskan masa kanak-kanak di Sumber, Kabupaten Cirebon, perjalanan sekurangnya setahun sekali dengan keluarga ke Bandung. Jakarta adalah kota yang cuma hitungan jari saya kunjungi pada waktu kecil, Bahkan jalan dari Cirebon ke rumah almarhum kakek-nenek yang di Bandung saja saya tidak tahu sampai saya melakukan perjalanan sendiri bermodal GPS HP dan sepeda motor beserta nekat yang boleh dikatakan gila untuk umur dan pengalaman saya waktu itu. Jadi, saya sendiri terkadang heran, apakah semua itu memang terjadi? Mengingat masa kecil saya yang jalan berpergian ke luar kota. Yang jadi permasalahan itu adalah soal kepercayaan. Yang saya takutkan, dengan ketidakpercayaan mereka tentang cerita saya, mereka jadi hilang kepercayaannya terhadap saya. Saya akui memang saya orangnya kepo, kepengen nyaho kalau udah urusan sosial, hehe.

Jika saja apa yang saya ceritakan menurut pembaca adalah sekedar bualan tanpa fakta yang dapat dipercaya, itu hak pembaca. Saya hanya berpikir, apakah kejujuran di dunia ini memang pahit diterima, atau menyakitkan hati orang jika seseorang mengetahuinya? Apakah kepercayaan orang tentang kejujuran hanya sebatas jawaban 'ya' di mulut tanpa keyakinan dalam hati? Entahlah. Karena saya sejak kecil dididik orang tua untuk jujur dan bertanggung jawab atas segala kebebasan yang orang tua saya percayakan :)

Monday, September 30, 2013

Berbalik Arah

Jaman sekarang, susah ya buat orang ngerti. Jaman sekarang, yang namanya jasa-jasa itu tidak dihargai lagi. Yang berlalu, biarlah berlalu. Itulah anggapan orang yang tidak pernah ingin meembalas budi.

Terkadang, kita harus berbicara lantang agar semua dapat mendengar. Terkadang juga, kita harus menerima bahwa kenyataan itu pahit. Siapa yang tahu hari esok akan menjadi apa? Dua hati tidak akan pernah menjadi satu dalam penjelasan ilmiah apapun.

Itulah yang orang sebut perbedaan. Saya pikir, perbedaan itu indah hanyalah motivasi yang sangat sulit diwujudkan. Jaman sekarang, agak sedikit susah untuk menerima perbedaan. Apalagi saat tidak ada yang mendengar kita.

Intinya jika kalian ingin berbaur, maka kalian harus berbalik arah dengan rute dan yang telah ditentukan. Jika itu yang terbaik untuk masa depanmu, maka lakukanlah.

Tuesday, September 24, 2013

Mahasiswa Baru

Tanggal 23 September 2013, saya perdana untuk menjadi mahasiswa. Belum ada satu bulan menjadi mahasiswa, sudah banyak kejadian yang saya alami, banyakannya sial sih. Dari mulai hari sebelum ospek (tanggal 21 September 2013), saya mencukur rambut saya menjadi cepak ala mahasiswa baru yang ikut ospek. Dari situ kejadian demi kejadian aneh saya alami.

Mulai dari baru selesai cukur rambut, saya merasa pusing, bukan karena botak, tapi entah kenapa saya merasa pusing setelah dibotak. Kepleset, kejedug, yang lucu lagi saat saya memasang pewangi ruangan matik, tepat sasaran setelah memasangkan baterenya pewangi tersebut menyemprot muka saya. Lalu saya dikerjain temen satu kontrakan saya. Saya makan pisang goreng yang diberi cengek di dalemnya. Karena saya sedang konsen membuka casing laptop temen, jadi saya tidak konsen. Setelah cengek tersebut tergigit, saya bilang, "cengek kirik!" namanya juga dari Cirebon.

Hari pertama masuk kuliah, saya sendirian. Ada beberapa temen kelas yang ngajak kenalan, tapi udah stuck di nanya nama doang. Jam 11.00 WIB, saya pulang ke kontrakan karena jam kuliah baru dimulai lagi jam 13.30 WIB. Saat di parkiran, saya bingung arah jalan keluar parkiran motor kemana, ternyata saat pertama saya salah jalur. Kemudian saya putar balik, yang kacaunya plat nomor motor saya tersangkut di plat nomor motor orang lain yang saya tidak tahu itu siapa. Lalu plat nomor motor orang tersebut rusak, saya juga bingung kenapa sial lagi sial lagi.

Yang terakhir, saat acara ulang tahun temen kontrakan saya, saya terbanjur oleh air gelas plastik yang dipencet temen saya lagi. Kenapa setelah botak dan jadi mahasiswa baru, hidup saya menjadi mahasiswa dimulai dengan hal yang aneh, lucu, sial, dan memalukan?

Ambil hikmahnya aja deh, mungkin abis ini saya dapet sesuatu yang asik, baik, oke, kece, trendi, funky, colorful, cheerful, hyper happy deh pokoknya, Amiin...

Tuesday, August 20, 2013

Dibutuhkan Sebagai...

Banyak orang banyak pandangan. Itu hal yang pasti. Sampai-sampai saya membuat pernyataan: "Banyak tahu banyak masalah, kurang tahu terasa hampa", pernyataan tersebut bisa anda artikan dengan banyak arti. Bisa kalian bilang hanya wacana ngaco, bisa juga anda setuju dengan pernyataan itu. Mungkin 1 di antara anda yang setuju pernah mengalami pengalaman yang mirip dengan saya (karena di dunia ini tidak ada yang sama persis). Mungkin yang pernah merasakan apa yang saya rasakan adalah mereka yang pernah galau.

Pernahkah anda memberikan pernyataan pada diri anda: "Lebih baik saya tidak pernah tahu agar tidak sakit seperti ini"? Karena manusia sering kali tidak punya pegangan teguh dan sering bingung: "Kenapa tadi saya bilang itu? Kenapa harus saya membenci hal itu? Kenapa harus terucap oleh lisan saya?". Jawabannya rumit, karena di dunia ini manusia dituntut untuk mencari tahu. Dan apa yang membuat saya menyatakan: "Banyak tahu banyak masalah"? Yaitu kita tahu tapi hanya sepotong, bukan tahu yang lengkap. Bayangkan jika anda mengerjakan sesuatu, anda hanya tahu langkah awalnya, tapi anda tidak punya ilmu yang lengkap dan semua perkerjaan yang anda pernah lakukan terhenti di angka 85%, apakah itu tidak menyesakan hati?

Tapi sebenarnya, inti dari judul yang saya berikan pada artikel saya ini bukan itu. Saya ingin bertanya kepada anda semua, pernahkah anda menjalin hubungan dengan orang lain? Saya yakin, para pembaca di sini selalu melakukan hubungan dengan orang lain. Lantas, apakah pembaca di sini pernah memiliki banyak teman? Teman yang berasal dari mana? Dari teman lama anda? Atau anda yang mencari sendiri?

Seseorang mungkin sulit untuk menerima orang baru, dibutuhkan waktu yang cukup lama dengan keberhasilan yang cukup minim. Terkadang, anda terkesan dimanfaatkan oleh seseorang yang anggap teman itu. Kenapa? Karena mereka hanya datang saat ada butuhnya saja, bahkan seseorang yang dulu pernah menjadi kawan baik anda.

Pernah saat lebaran kemarin, seorang kawan kenalan dari kawan saya yang satunya mengirimkan saya sebuah pesan singkat. Saya-pun tidak ingat kalau itu adalah hari lebaran. Setelah saya buka, ternyata dia hanya menanyakan: "Mas, laptop yang bagus buat saya untuk mainan apa ya dengan harga yang murah?" Betapa terlihat lucu, di hari yang fitri itu kawannya kawan saya tidak mengucapkan mohon maaf lahir batin. Tidak terasa pada saat itu kalau pertanyaannya yang diajukan tidak sesuai dengan momen saat itu karena saya sendiri lupa. Akhirnya saya diingatkan kawan saya saat saya pulang ke Cirebon bahwa yang kemarin mengirim pesan singkat kepada saya itu tidak juga mengucapkan maaf kepada kawan-kawan saya yang lain. Mereka bilang orang tadi datang hanya saat ada butuhnya saja dengan kami.

Itu cerita kawan yang pertama. Saya maklumkan dia hanya kawan jauh.Ada lagi seorang kawan lama saya yang sudah lama kami tidak berhubungan. Setelah sekian lama, akhirnya kami sempat berjumpa sekali-kali tanpa ada kelanjutan (jadi cuma hari itu bertemu dan selesai). Tiba-tiba datang kembali dan menanyakan saya tentang "Mas saya mau beli hp. Kalau mau nentuin hp itu bagus dilihat dari mananya ya?". Begitu kira-kira isinya. Pada saat itu saya hanya berpikir ingin membantu kawan dengan memberi saran. Setelah beberapa lama dari kejadian itu, kawan lama saya ini kembali lagi dengan pertanyaannya: "Mas kalau laptop yang murah bisa buat mainan tipe apa ya?". Lumayan terkejut saya mendengarnya karena setelah saya beri saran, tidak ada lagi yang lain. Tanpa basa-basi, dan tanpa kelanjutan.

Sekarang, saya tinggal di sini, melihat kawan-kawan yang baik-baiknya berangkat untuk kuliah, sementara saya masih menunggu 1 bulan di sini. Sangat terasa sepi karena biasanya saya main kesana-kemari hingga malam hari. Sekarang yang bisa saya lakukan hanya berdiam atau mengunjungi rumah pacar sampai sore, selanjutnya kebingungan mau kemana.

Tetapi di balik itu semua, saya patut bersyukur bahwa saya hanya diandalkan orang lain (bukan sahabat) tentang informasi yang saya miliki. Masih banyak orang lain yang dibutuhkan orang lainnya untuk diperas hartanya. Bersyukur saya bukan salah satu dari mereka yang hanya dibutuhkan hubungannya untuk diperas hartanya (karena saya tidak punya banyak).

Saturday, May 4, 2013

Di Mana Moral dan Etika Berbicara?

Sering engga kita lihat banyak banget komentar di situs-situs internet yang tajam? Apa sih efeknya buat yang dihinanya? Apa mereka denger?

Beberapa bulan terakhir, saya sering sekali berkunjung ke sebuah situs di internet yang kebetulan sudah membuat aplikasi tersendiri untuk HP saya. Kebetulan juga, di situ ada tautan untuk nambahin atau sekedar liat komentar di satu artikel. Dan, apa kalian tahu apa isinya? Banyak sekali orang-orang yang mencela sebuah produk. Di sisi lain, mereka engga bisa nyiptain sebuah produk yang lebih baik, atau parahnya mereka engga cukup mampu untuk sekedar beli produk yang mereka cela itu.

Malah parahnya, di satu komunitas yang menjunjung teknologi, mereka dengan berani tanpa adanya batas berbicara dan membagi foto-foto wanita minim busana. Siapa dan apa yang dibicarakan sama sekali tidak masuk dalam konteks dan judul dari grup tersebut. Saya tidak patut untuk mengumumkan bukti karena terkait dengan nama baik.

Bahkan di media sosial sekalipun, orang-orang dengan percaya dirinya mengumumkan tentang keburukannya. Media sosial adalah tempat umum, saya sendiri pernah bercekcok di salah satu media sosial ternama tanpa ada rasa malunya. Bahkan kini kita bisa lihat di televisi, kebencian yang disebarkan, bahkan sampai berani untuk membawa nama Tuhan.

Sebenernya, ini pada kemana semua pelajaran etika dan moral manusia lokal di sini? Menurut saya sangat perlu untuk membenahi pendidikan moral di sini. Tanpa ada maksud menyinggung orang, dengan artikel ini, saya memohon maaf bila ada satu pihak yang tersinggung.

Saturday, December 29, 2012

Tips Sukses Punya Banyak Teman

Beberapa, atau bahkan banyak orang punya kesulitan untuk cari temen sebanyak-banyaknya. Kadang-kadang susah buat seseorang untuk bisa gabung di satu siklus pertemanan. Saya salah satunya. Dulu saya cuma seseorang yang bisa punya banyak temen dari ngekor sama temen. Tapi tetep aja, saya engga pernah ngerasa punya temen yang beneran temen kalau saya terus-terusan ngekor. Maksudnya apa sih "ngekor"? Jadi, kita itu selalu diajak sama beberapa temen kita yang supel, dikenalin sama temen-temen dari beberapa temen kita yang supel itu, tapi kita tetep engga bisa sedeket mereka, temen-temen kita yang supel tadi sama temen-temennya.

Bingung kan? Singkatnya, kita engga bisa cari temen sendiri. Kita masih bergantung sama temen-temen kita untuk kenal banyak orang. Padahal sebenernya engga! Kita bisa punya banyak temen dari apa yang kita punya. Misalnya keahlian, harta orang tua, dan macem-macem. Tapi modal kita untuk punya temen itu mutusin gimana temen yang bakalan kita dapet. Maksudnya? Ngerti kan?

Jadi, kalau modal kita punya temen itu berdasarkan ngebanggain harta orang tua, kita pasti punya temen yang kalau engga anak-anak orang-orang kaya, pasti orang-orang yang suka minta-minta sama kita. Kalau kita punya keahlian, terkadang juga kita kaya dimanfaatin keahliannya untuk bisa milikin mereka sebagai temen kita. Maksudnya gimana lagi? Ya, jadi kalau kita pinter pelajaran, temen-temen kita pasti manfaatin kita untuk minta diajarin ini itu. Kalau kita modalnya tukang main, ya kita bisa macem-macem. Kalau engga bisa jaga diri, ya kita bisa terlibat kasus ini itu.

Harus gimana dong untuk dapet punya temen banyak? Caranya gampang, JADI DIRI SENDIRI, itu yang paling gampang. coba untuk berbaur sama orang-orang lain, temen kita engga cuma 2 atau 3. Dan jangan anggep sahabat sejati itu ada! Mustahil jaman sekarang ada orang yang temenan lebih dari 10 tahun engga ada konflik dan engga ada yang ditinggalin. Saya salah satunya, yang dulu punya temen-temen yang udah saya anggep sahabat, tapi sekarang mereka lupa sama saya karena saya selalu ngekor sama temen-temen itu untuk dapet temen. Dan rasanya bisa lebih sakit lagi kalau kita udah nganggep sahabat, taunya kita ditinggalin, bahkan digantiin sama orang baru yang jadi temen deket atau temen se-gengnya yang baru.

Kunci utamanya sih jangan pernah suka ngebohong ataupun sombong. Dua penyebab itu yang bikin kita dijauhin, bikin kita jadi bahan omongan orang, bikin kita engga dipercaya sama orang. Orang-orang sombong yang suka ngebohong dan yang suka nyari prestis alias gengsian, hidupnya juga bakal dimanfaatin orang-orang di sekitar. Ya iya lah, mikirnya cuma minta dihormatin doang tapi engga ngehargain orang lain. Suatu saat juga orang-orang yang begitu bisa dijauhin di kalangan sosial. Apalagi cuma omongan kosong yang ngelebihin yang baiknya dan ngehapus yang buruknya, kalau ketahuan temen-temen, harga diri kita mau dikemanain? Kata guru saya, nyontek embrio koruptor, bisa jadi dimulai dari ngebohongin diri sendiri sama orang lain. Makanya, jangan suka ngebohongin orang kalau mau dipercaya orang.

Jadi intinya, apa yang kita lakuin itu bakal nentuin apa yang kita dapetin. Kalau kalian masih susah punya banyak temen, buka diri, dan rendah hati. Apa yang Tuhan titipin ke kita itu engga bakal selamanya. Inget, roda kehidupan masih terus muter, kaya judi-judi di kasino aja di luar negeri yang ada papan bulet muter terus kita masukin koin. Kadang untung, gagal mah udah biasa hahaha.

Tulisan ini ditulis berdasarkan pengalaman loh, mungkin di kenyataannya tiap orang punya pandangan yang berbeda-beda soal bertemen. Selamat berkawan!