Sunday, November 15, 2015

Sulit

Terlalu sulit mengerti orang lain saat merasa diri sendiri tidak ada yang mengerti. Terlalu sulit menerima hidup itu santai dan mudah saat melihat kejahatan ada di depan mata. Terlalu sulit menaati peraturan saat di sekitar kita sendiri melanggar peraturan. Terlalu sulit memberi saat diri sendiri merasa tidak cukup. Terasa sulit menghadapi kenyataan saat diri sendiri hidup di kehidupan yang semu. Terlalu sulit merima kehadiran orang lain di saat diri sendiri merasa tidak ada yang menerima.

Thursday, November 12, 2015

Membuat Dunia Tempat yang Lebih Baik

Antara aturan dan kebiasaan buruk memang seringkali sulit disatukan. Melihat sebuah kehidupan yang terlihat indah dan begitu berwarna ternyata tidak senyaman yang di pikiran kita. Iri hati pada kehidupan orang lain yang berkecukupan karena kita melihat mereka bahagia, padahal sebenarnya mereka juga punya hari dimana kecukupan mereka tidak mampu membahagiakan mereka. 

Hari ini kita dihadapkan pada keadaan yang sulit dimana istilah-istilah populer telah membenarkan kebiasaan buruk. Seperti misalnya kasus bully, dimana sebenarnya ini adalah kesalahan yang besar. Manusia hidup bersama dengan unsur kebersamaan dimana saling menghormati dan saling menghargai adalah cara yang baik untuk membuat sebuah hubungan dengan orang lain menjadi  lebih baik. Tetapi sekarang saat seseorang di-bully, terkadang orang yang menjadi bahan bully-an tersebut dibilang BAPER (bawa perasaan), dimana manusia tidak boleh menunjukkan rasa sakit hati. Di satu sisi, kasus bullying dibahas di banyak acara TV. Pada kenyataannya, kejadian bunuh diri karena merasa terhina tidak menghentikan orang lain untuk menghentikkan kegiatan bullying-nya tersebut. Sama seperti kejadian over dosis pada pengguna narkoba, atau kematian pada pemabuk juga tidak mampu menghentikkan kegiatan buruk yang mereka lakukan.

Manusia terlahir tidak tahu apa-apa, dan pada dasarnya memiliki rasa penasaran dan keingin-tahuan yang besar. Banyak di sekitar saya orang-orang yang memulai kegiatan yang membuat ketagihan pada awalnya adalah karena penasaran dan ingin coba-coba. Ada juga yang berkata, "Lebih baik muda merasakan agar tua tidak penasaran," dalam rangka untuk membela diri atas kejahatan yang mereka lakukan. Bahkan setelah bertahun-tahun mencoba, mereka bukannya puas malah terjerumus lebih dalam terperosok dan tenggelam ke dalam lubang hitam yang selalu menjerat. Dan saat itulah, saya walaupun sebagai kawan dekat tidak berani untuk menasihati, menegur, atau mencoba memberitahu apa yang mereka lakukan adalah TINDAKAN KRIMINAL.

Saya tidak pernah berharap mereka untuk ditangkap polisi, saya hanya berharap mereka bisa kembali memikirkan keluarga yang telah mereka khianati, sama seperti saat pertama kali saya ketahuan merokok oleh orang tua saya, dimana ibu saya sampai menangis di pinggir jalan. APALAGI JIKA MEREKA TAHU ANAK-ANAK YANG MEREKA PERCAYA TELAH MENGKONSUMSI BARANG HARAM, entah apa yang akan orang tua mereka katakan.

Setidaknya aturan yang ada di seluruh dunia ini dibuat demi membuat kehidupan ini lebih teratur dan lebih baik. Hanya orang-orang yang tidak berpendidikanlah yang memprovokasi kejahatan, dan berkata, "Aturan ada untuk dilanggar". Apakah kalian termasuk orang yang berpendidikan?

Thursday, April 9, 2015

Dunia Baru di Masa Kuliah

Banyak orang bilang kalau kuliah itu masa transisi manusia dari setengah matang menuju tiga-perempat matang. Di perkuliahan banyak juga yang dipelajari. Misalnya kita ketemu sama orang-orang dari berbagai daerah dengan kebiasaan yang jauh berbeda dengan kebiasaan kita dulu. Ada orang yang jadi lebih baik di masa kuliah, ada juga yang turun menjadi lebih buruk, apalagi untuk sebagian perantau yang baru mengenal dunia luar. Terkadang saya menemukan banyak orang yang sedang mencari jati dirinya yang baru di dunia perkuliahan. Bisa dibilang pencarian jati diri kedua setelah orang bilang masa SMP adalah masa mencari jati diri seseorang.

Saya melihat di sekitar saya apa yang diceritakan oleh orang tua yang sering saya ajak sharing pada saat masih di kampung halaman itu nyata dan saya membuktikan dengan kedua mata saya sendiri. Semua perasaan bercampur aduk, heran, sedih, bimbang, senang, bahagia, haus akan dunia, marah, semuanya jadi satu. Perubahan-perubahan yang saya tidak inginkan malah banyak terjadi di masa ini. Kesedihan yang mendalam melihat teman-teman yang dulu saya kenal bukanlah seperti teman-teman pada saat kami ngerumpi dulu di masa sekolah. Bahkan kawan yang sudah bersama dari semenjak pertama masuk sekolah dasar sampai sekarang-pun berubah. Ini yang tidak saya inginkan.

Pada masa kecil hingga sekarang, saya banyak melihat perubahan manusia. Dari kekanak-kanakan, hingga terkesan banyak gaya sampai akhirnya berubah lebih baik hingga kembali ke jalan yang tidak direstui mayoritas orang tua. Roda kehidupan ini terus berputar hingga manusia itu "kembali" atau sudah bingung harus berbuat apa saat menjadi orang yang sangat tua. Sebenarnya pengalaman sangat diperlukan di dalam kehidupan agar mengerti mana yang salah dan mana yang benar, tetapi ada beberapa pengalaman atau rasa keingintahuan yang harus sangat dihindari, karena jika anda berani-berani masuk ke lingkaran tersebut, anda seperti berada di lintasan bulat yang tidak mempunyai jalan menuju pit stop atau garis finish hingga anda celaka atau diselamatkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa melalui orang-orang di sekitar anda.

Rasa ingin tahu manusia mungkin sedang memuncak untuk kali ke sekian di masa ini. Meskipun pahit melihat kenyataan tersebut, tapi apa daya semua bukan hak saya untuk melarang segala sesuatunya. Mungkin hati dan emosi ini terkejut melihat semua perubahan manusia di sekeliling saya berubah, atau karena saya bukanlah mereka?

Setiap ada kawan yang datang dari kota lain, saya selalu bertanya-tanya tentang kehidupan perkuliahannya. Entah itu kehidupan sosial, maupun keadaan daerah yang ditinggali oleh kawan-kawan saya. Siapapun saya tanya bagaimana kehidupannya di sana, untuk mempelajari apa yang didapat kawan saya di daerah lain. Ternyata banyak juga yang mengalami kehidupan seperti ini, dimana terkadang seseorang harus bergabung sebagai minoritas diantara kaum mayoritas. Bahkan pernah saya berpendapat kalau dunia ini lebih mencintai keburukan pada jaman sekarang.

Dari kota kecil ke kota besar, ternyata inilah kerasnya kehidupan yang disebut-sebut oleh banyak orang. Ternyata stres dan kesedihan bercampur dengan bahagia dan suka cita di sini, ya sebenarnya perasaan seperti ini tidak beda jauh dengan waktu dulu, tetapi perasaan seperti ini datangnya lebih kuat. Saya melihat banyak orang yang berjuang untuk mencoba menjalani hidup sendiri dengan mengurangi atau merasa cukup dengan pemberian orang tua, tetapi tidak sedikit juga yang masih mencari arti bahagia di kehidupan dengan cara yang salah. Saya tidak 100% benar, saya di sini hanya mengamati karena saya masih berada di antara kedua golongan tadi.

Sering kali manusia terlalu mendengarkan apa yang orang lain mau. Media massa sekarang malah menjadi racun sekarang untuk banyak kelakuan buruk generasi muda. Sampai otak ini bingung harus memutar otak bagaimana lagi untuk mengajak kawan-kawan ini untuk meninggalkan hal-hal buruk yang bisa mengecewakan orang tua yang membesarkannya. Coretan-coretan kemurkaan dan kebodohan juga banyak saya temui di fasilitas umum. Banyak orang yang mencari "orang yang berpendidikan" tanpa melihat latar belakang kehidupan pendidikannya dan apa yang telah mereka jalani. Mungkin di sini fungsi KEPERCAYAAN adalah yang utama dengan percaya bahwa seseorang dapat berubah menjadi lebih baik.

Terkadang kebencian ini meluap dan ingin bertanya kepada seluruh kawan, "mengapa kalian berubah di saat kuliah?" tetapi kadang akal sehat menyadarkan emosi ini bahwa  itu bukanlah hak manusia untuk melarang manusia lain selain keluarganya. Saya hanya ingin mengungkapkan bahwa hidup itu hanya persinggahan seseorang menuju satu tujuan dan semua yang ada di alam semesta semata-mata hanyalah milik TUHAN YANG MAHA ESA.

Monday, March 2, 2015

Perubahan Kehidupan

Akhir-akhir ini banyak sekali perubahan di sekitar lingkungan yang dapat saya temui. Banyak sekali kejadian-kejadian buruk yang terjadi. Bisa dibilang lingkungan ini hampir ada di tahap "chaos", itulah saya menyebutnya seperti pada permainan konsol yang dulu sering saya mainkan. Di level "chaos" ini, sama saja dengan level "expert" pada jenis permainan lain. Perbedaannya adalah di level "chaos", sudah pasti orang-orang "expert" bisa bertahan dan menjalankan permainan, tetapi kejadian-kejadian yang terlihat adalah kejadian-kejadian dengan taraf kerusuhan yang tinggi. Bahkan sangat tinggi. Sehingga banyak sekali orang yang bingung cara masuk dalam permainan tersebut, bahkan bingung apa perannya dalam permainan tersebut.

Kehidupan, layaknya permainan. Pasti ada tamatnya. Dan tentu ada jalan ceritanya juga. Tidak mungkin tau-tau selesai tanpa dimainkan. Maka pada dasarnya kita sebagai manusia harus menyiapkan diri dalam menghadapi permainan demi permainan yang dilontarkan oleh musuh. Tetapi kadang kita memiliki kesulitan dalam memainkan peran di sebuah permainan. Dan jika kita mengalami kesulitan, maka ada sebuah buku yang berjudul "walkthrough"  yang bisa dikatakan contekan untuk menghadapi masalah di dalam permainan. Nah orang-orang jaman sekarang ini, termasuk saya tidak dapat dipungkiri, sering sekali jauh dari buku-buku tersebut. Sehingga "chaos" yang terjadi di dalam sebuah permainan semakin buruk, bahkan belum sempat tamat kita sudah ditamati duluan oleh sistem permainan tersebut.

Saya datang dan besar di Kota Cirebon, lalu menjalankan hidup, menjalankan hidup di Kota Depok, dimana kota tinggal saya kedua-duanya tidak luput dari banyak kerusuhan manusia. Di Kota Cirebon, saya biasa mendengar istilah geng motor, dan sekarang di Kota Depok, saya mulai agak sedikit sekali kenal dengan istilah pembegalan. Sampai-sampai suatu hari saya masuk ke toilet kampus, dan melihat ada sebuah coretan "Depok Berdarah". Yang membuat saya bingung adalah ketika orang-orang malah membicarakan dengan hinaannya tentang suatu keburukan yang sedang terjadi. Contohnya seperti "main-mainlah kemari, siapa tau tidak selamat" dan kesalnya ini sudah menjadi suatu kebiasaan yang sangat biasa di masyarakat. Padahal ada sebuah ungkapan yang berbunyi "mulutmu harimaumu, ucapanmu adalah doa", dan ini banyak sekali yang tidak mengerti akan kehadiran ungkapan-ungkapan bijak ini.

Saya juga mendapatkan review dari sumber yang dapat dipercaya, yang mengingatkan pada masa pemerintahan dulu. Kerusuhan terjadi dimana-dimana dengan sebuah embel-embel yang digembar-gemborkan seperti sebuah konspirasi terselubung dengan tingkat yang ssangat umum. Saya juga heran kenapa kejadian "chaos" yang seperti ini terulang kembali. Dan saya juga masih ingat cerita-cerita orang terdahulu dengan menghilangnya banyak manusia dan masyarakat yang meresahkan secara tersembunyi. Dan saya rasa itu cukup untuk membuat orang lebih bijaksana dalam mengambil tindakan dalam kehidupan. Kriminalitas juga berkurang, dengan mengorbankan 1-2 orang sumber penyakit, bisa menyelamatkan jutaan orang. Tetapi atas azas HAM, orang-orang jahat bermuka manis bersifat iblis ini terlindungi. Saya ingat dulu ketika saya masih dalam masa balita dan di bawah remaja, orang tua saya sering memarahi dan memberi hukuman saya jika saya melakukan kesalahan. Dan itu berfek kepada penanaman moral yang baik, yang dapat disimpulkan saya akan jera untuk melakukan hal yang sama. Tetapi ini kebalikannya. Dengan melindungi orang jahat yang kita anggap "orang-orang kita", sekalipun itu penjahat tetapi kata orang itu dihormati orang banyak, kapankah adanya kejeraan yang tertanam di hati orang-orang?

Doa saya untuk kehidupan ini, semoga cepat sembuh dan saling interospeksi diri satu sama lain. Masih ada jalan untuk berbuat kebaikan dan memperbaiki diri selama ada niat yang tulus dari dalam hati.

Friday, January 16, 2015

Cerita Fakta dan Cerita Bualan

Setelah beberapa waktu sibuk dengan dunia kuliah, kembali lagi saya mengingat aktivitas untuk mengisi blog saya yang kurang lebih sudah setahun libur. Setelah sibuk mengerjakan tugas dari perkuliahan, kini saatnya untuk menulis cerita dalam waktu yang telah lewat. Inti dari cerita berikut adalah tentang kepercayaan. Pada jaman ini, banyak orang yang melakukan kebohongan demi berbagai alasan kepentingannya. Dan saya salah satu dari sekian banyak orang yang bingung dengan cerita saya sendiri. Dalam arti apakah cerita saya terdengar bualan atau memang orang yang mendengarnya percaya cerita saya adalah fakta yang telah terjadi.

Tidak saya pungkiri kalau banyak di lingkungan saya tersebar orang yang berbicara tentang sesuatu yang tidak pernah ia alami. Beberapa orang yang melakukan pencitraan memiliki berbagai alasan, salah satunya agar dapat diterima di sebuah lingkungan. Itulah alasan yang menggoyahkan saya untuk meyakini orang-orang yang mendengar cerita saya itu menganggap cerita-cerita ini adalah bualan belaka.

Pernah beberapa kali saya pulang-pergi Depok-Cirebon dengan menggunakan sepeda motor tanpa ditemani orang lain dan hanya bermodal alat navigasi dari HP. Saat pertama kali melakukan perjalanan, saya nekat saja cuma bermodal aplikasi navigasi dari HP tanpa mengetahui kebenaran tentang rute yang saya jalani. Artinya, saya benar-benar buta arah. Baru beberapa saat di jalan saja sudah terguyur hujan, pada waktu itu sore hari sekitar habis Ashar. Lalu saya sempat tersesat di daerah Bekasi karena sinyal GPS dari HP saya itu tidak akurat. Lalu saya melewati sebuah sungai atau kali yang besar di Bekasi dengan kondisi yang gelap (karena waktu itu sudah malam) dan akhirnya sampai di kontrakan teman saya di depan Graha Insan Citra, RTM, Depok. Lalu beberapa kali pulang-pergi, saya masih tetap mengandalkan HP dengan bantuan GPS dan mendengarkan instruksi dari HP melalui navigasi suara HP dengan menggunakan headset. Dan jujur, saya belum hatam beberapa patokan penting Depok-Cirebon. Beberapa orang bertanya arah mana yang saya ambil, saya cuma bisa menceritakan ciri-ciri jalan yang saya lewati tanpa tahu persis ada di daerah mana saya waktu itu.

Lalu beberapa kali saya cerita tentang kehidupan saya di Cirebon. Beberapa orang mungkin tidak percaya, dan terkadang saya suka bertanya kepada orang yang saya ceritakan pengalaman saya, apakah mereka percaya atau tidak. Percaya atau tidaknya mereka sebenarnya bukan masalah, karena hidup yang saya jalani bukan cerita yang didapat orang lain. Tetapi terkadang terasa lucu ketika melihat orang lain antara percaya dan tidak dengan cerita saya tersebut.

Lalu saya sempat beritahu tentang Bapak saya yang namanya mulai dikenal oleh beberapa orang karena beliau merupakan seorang guru di sebuah organisasi bela diri. Mungkin beberapa orang hanya sebatas mengiyakan saja. Kembali saya senyum-senyum sendiri kalau melihat reaksi yang seperti itu, hehehe.

Lalu saya bercerita tentang masa lalu saya yang naik dan turun. Saya ceritakan juga bagaimana kondisi saya yang sekarang. Terkadang juga lucu saat orang mungkin bingung dengan cerita saya. Mungkin bagi beberapa orang cerita-cerita saya ini terlalu tinggi untuk menjadi kenyataan ya? Entahlah, sebenarnya saya hanya menceritakan pengalaman saya yang sudah terjadi saja.

Di Depok sudah mau masuk semester 4 perkuliahan. Saya sudah memiliki pengalaman juga di sini. Mulai dari mengenal jalan, mengenal kondisi lalu lintas, dan mengenal jadwal kapan ada razia kendaraan di satu titik. Saya juga sudah punya kehidupan yang baru, tetapi tetap tidak akan melupakan kawan-kawan lama saya yang sudah menjadi 'sohib banget' pokoknya. Wakuncar dari Depok ke Bogor, kalau cerita yang ini mungkin masih banyak orang yang percaya karena jaraknya tidak terlalu jauh juga. Akhirnya saya tahu bagaimana kondisi di kota lain dan apa saja budaya yang terlihat sekilas pandang.

Sebenarnya waktu kecil, saya jarang berpergian. Menghabiskan masa kanak-kanak di Sumber, Kabupaten Cirebon, perjalanan sekurangnya setahun sekali dengan keluarga ke Bandung. Jakarta adalah kota yang cuma hitungan jari saya kunjungi pada waktu kecil, Bahkan jalan dari Cirebon ke rumah almarhum kakek-nenek yang di Bandung saja saya tidak tahu sampai saya melakukan perjalanan sendiri bermodal GPS HP dan sepeda motor beserta nekat yang boleh dikatakan gila untuk umur dan pengalaman saya waktu itu. Jadi, saya sendiri terkadang heran, apakah semua itu memang terjadi? Mengingat masa kecil saya yang jalan berpergian ke luar kota. Yang jadi permasalahan itu adalah soal kepercayaan. Yang saya takutkan, dengan ketidakpercayaan mereka tentang cerita saya, mereka jadi hilang kepercayaannya terhadap saya. Saya akui memang saya orangnya kepo, kepengen nyaho kalau udah urusan sosial, hehe.

Jika saja apa yang saya ceritakan menurut pembaca adalah sekedar bualan tanpa fakta yang dapat dipercaya, itu hak pembaca. Saya hanya berpikir, apakah kejujuran di dunia ini memang pahit diterima, atau menyakitkan hati orang jika seseorang mengetahuinya? Apakah kepercayaan orang tentang kejujuran hanya sebatas jawaban 'ya' di mulut tanpa keyakinan dalam hati? Entahlah. Karena saya sejak kecil dididik orang tua untuk jujur dan bertanggung jawab atas segala kebebasan yang orang tua saya percayakan :)

Monday, September 30, 2013

Berbalik Arah

Jaman sekarang, susah ya buat orang ngerti. Jaman sekarang, yang namanya jasa-jasa itu tidak dihargai lagi. Yang berlalu, biarlah berlalu. Itulah anggapan orang yang tidak pernah ingin meembalas budi.

Terkadang, kita harus berbicara lantang agar semua dapat mendengar. Terkadang juga, kita harus menerima bahwa kenyataan itu pahit. Siapa yang tahu hari esok akan menjadi apa? Dua hati tidak akan pernah menjadi satu dalam penjelasan ilmiah apapun.

Itulah yang orang sebut perbedaan. Saya pikir, perbedaan itu indah hanyalah motivasi yang sangat sulit diwujudkan. Jaman sekarang, agak sedikit susah untuk menerima perbedaan. Apalagi saat tidak ada yang mendengar kita.

Intinya jika kalian ingin berbaur, maka kalian harus berbalik arah dengan rute dan yang telah ditentukan. Jika itu yang terbaik untuk masa depanmu, maka lakukanlah.

Tuesday, September 24, 2013

Mahasiswa Baru

Tanggal 23 September 2013, saya perdana untuk menjadi mahasiswa. Belum ada satu bulan menjadi mahasiswa, sudah banyak kejadian yang saya alami, banyakannya sial sih. Dari mulai hari sebelum ospek (tanggal 21 September 2013), saya mencukur rambut saya menjadi cepak ala mahasiswa baru yang ikut ospek. Dari situ kejadian demi kejadian aneh saya alami.

Mulai dari baru selesai cukur rambut, saya merasa pusing, bukan karena botak, tapi entah kenapa saya merasa pusing setelah dibotak. Kepleset, kejedug, yang lucu lagi saat saya memasang pewangi ruangan matik, tepat sasaran setelah memasangkan baterenya pewangi tersebut menyemprot muka saya. Lalu saya dikerjain temen satu kontrakan saya. Saya makan pisang goreng yang diberi cengek di dalemnya. Karena saya sedang konsen membuka casing laptop temen, jadi saya tidak konsen. Setelah cengek tersebut tergigit, saya bilang, "cengek kirik!" namanya juga dari Cirebon.

Hari pertama masuk kuliah, saya sendirian. Ada beberapa temen kelas yang ngajak kenalan, tapi udah stuck di nanya nama doang. Jam 11.00 WIB, saya pulang ke kontrakan karena jam kuliah baru dimulai lagi jam 13.30 WIB. Saat di parkiran, saya bingung arah jalan keluar parkiran motor kemana, ternyata saat pertama saya salah jalur. Kemudian saya putar balik, yang kacaunya plat nomor motor saya tersangkut di plat nomor motor orang lain yang saya tidak tahu itu siapa. Lalu plat nomor motor orang tersebut rusak, saya juga bingung kenapa sial lagi sial lagi.

Yang terakhir, saat acara ulang tahun temen kontrakan saya, saya terbanjur oleh air gelas plastik yang dipencet temen saya lagi. Kenapa setelah botak dan jadi mahasiswa baru, hidup saya menjadi mahasiswa dimulai dengan hal yang aneh, lucu, sial, dan memalukan?

Ambil hikmahnya aja deh, mungkin abis ini saya dapet sesuatu yang asik, baik, oke, kece, trendi, funky, colorful, cheerful, hyper happy deh pokoknya, Amiin...